Platonic Love : Cara Mencintai dan Menghargai Rasa Cinta

Platonic Love : Cara Mencintai dan Menghargai Rasa Cinta

 

Bicara soal cinta memang tidak akan pernah ada habisnya. Selalu menarik, tapi juga melelahkan. Kondisi ini sejatinya dialami oleh siapa saja. Baik orang-orang yang berada dalam sebuah hubungan ataupun tidak (single). Hanya konteksnya saja yang mungkin berbeda.

Cinta adalah tema yang bisa di bahas oleh siapapun terlepas dari status hubungan mereka dalam lingkungan sosial. Itulah kenapa, bahasan ini menarik. Selalu ada cerita suka dan duka yang mengiringinya. Mereka yang tengah jenuh dengan pasangannya akan merasa lelah. Begitu pula mereka yang tidak memiliki pasangan, juga merasa lelah karena ‘mungkin’ sudah melewati masa-masa sulit dalam hubungan percintaan yang tak kunjung berhasil.

Umumnya semua orang pasti pernah galau karena cinta.

Pernahkah kamu berfikir, jika perasaan mencintai dan di cintai itu menyenangkan, lalu kenapa kamu merasa galau?

Apa sih sebenarnya cinta?

Kali ini kita akan membahas sisi lain dari perasaan cinta yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya.

Cinta Tanpa Menyakiti Diri Sendiri

Umumnya rasa cinta muncul dari sebuah ketertarikan. Ketertarikan itu sendiri memiliki level dan jenis yang berbeda.

Dilansir dari weekdays, ketertarikan hadir dalam bentuk aesthetic, sensual, platonic, sexual dan romantic.

Tidak semua ketertarikan berakhir dengan rasa ingin memiliki. Misalnya ketertarikan aesthetic yang hanya muncul ketika suka apa yang dia lihat namun tidak ada rasa ingin memiliki/ serius/ berhubungan.

Berbeda sekali dengan ketertarikan romantic yang biasanya di wujudkan dalam hubungan pacaran hingga ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan.

Adapun ketertarikan sexual jelas sekali memiliki goal utama berupa hubungan sex. Ketertarikan sensual, sedikit berada di bawahnya, yakni hanya berupa sentuhan fisik namun sama –sama tidak ada rasa ingin berhubungan lebih jauh.

Ketertarikan yang kita bahas kali ini adalah ketertarikan platonic atau yang lebih sering di kenal dengan platonic love.

Inilah kunci untuk mengatasi rasa galau, gundah merana karena cinta yang mungkin sering kamu alami selama ini.

Umumnya, cinta yang kita bangun selama ini selalu melibatkan keterikatan emosional. Akibat dari ketertarikan emosional, maka muncul rasa takut kehilangan.

Lalu apa hubungannya dengan platonic love? Platonic Love adalah cinta yang sifatnya universal dan mengesampingkan hasrat jasmaniah.

Menurut Dr. Fahruddin Faiz, di level platonic love ini kamu tidak perlu khawatir, kamu boleh jatuh cinta pada siapa saja. Kamu bisa bertemu siapa saja, memberi kebaikan dan mengambil kebaikan darinya. Tidak ada masalah dengan fisik, materi, di terima atau di tolak karena ini adalah cinta tanpa keterikatan emosional.

Bahkan secara lebih ekstrim, mereka yang bisa sepenuhnya menerapkan hal ini merasa lebih baik mencintai seseorang yang tidak mencintanya. Kenapa? Karena kalau kita cinta seseorang, dan dia juga cinta, maka akan lahir keterikatan. Keterikatan emosional. Dan keterikatan inilah yang menjadi sumber dari segala galau.

Sedangkan cinta kepada orang yang tidak mencintai kita, tidak akan ada keterikatan emosional.  Artinya kita bebas mencintai.  Bebas berbuat baik diantara aku dan kamu Ataupun dirimu terhadap diriku. Sehingga kita tidak perlu  pusing memikirkan, apakah dia cinta atau tidak.

Syaratnya anda harus mempunyai cinta yang platonic.

Sebagaimana di dalam agama, keterikatan manusia harusnya hanya kepada sang pencipta. Sedangkan menurut Plato, jika dikaitkan dengan keterikatan pada pasangan, maka seharusnya cintai lah yang tidak mencintai dirimu. Itu yang paling aman menurut Plato walau nampaknya teori ini sangat sulit untuk di terapkan.

Tapi coba kita bayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada keterikatan emosional, lahirlah harapan-harapan. Keingingan-keinginan. Jika sudah lahir demikian itu maka pastilah muncul kekecewaan.

Disinilah rumusnya. Jika sejak awal kita hanya mencintai tanpa berharap apapun, pasti tidak kecewa. Sebab tidak ada sesuatu di dunia ini yang abadi. Tidak semua hal yang ada di dunia ini bisa kita dapatkan.

Jika ingin berbuat baik, maka lakukan saja tanpa mengharap apapun. Dalam ilmu agama hal ini disebut dengan ikhlas.

Kenapa keterikatan emosional bisa menjadi berbahaya? Sebab hal yang paling menakutkan dari keterikatan emosial adalah munculnya rasa takut kehilangan yang akhirnya membuat kita merasa tergantung.

Dititik inilah muncul perasaan galau.

Menilik kembali ke rumus platonic love. Pertama, jangan ada keterikatan emosional. Tidak perlu berkomitmen. Suka silahkan, tapi jangan tergantung.

Kalau kamu ada dalam wilayah cinta dengan keterikatan emosional hari ini, Segeralah melepaskan diri.

Sebagaimana domba yang jatuh cinta pada serigala. Cinta itu akan membelenggu, maka secepatnya dia harus melepaskan diri dari serigala, kalau tidak, lambat laun kamu akan di makan juga saat serigala kelaparan.

Meski pada akhirnya kamu sukses menikah sekalipun, apakah ada ikatan di dunia ini yang tidak terpisah? Suami istri pun pada akhirnya juga berpisah. Tidak ada yang abadi

Maka dari itu, mencintailah. Berbuat baiklah. Tapi, emosi dan ketergantungan tidak perlu di ikut sertakan agar tidak jadi sumber kesedihan jika suatu hari nanti kamu tidak bisa lagi meraihnya.

Mulai sekarang,jika belum menikah, rubah cara mencintaimu. Hargai rasa cinta dengan berbuat baik, tulus, tanpa ada judgement, commitment, ataupun acceptance yang berlebihan.

Namun jika sudah menikah, ingatlah untuk mencintai pasangan sewajarnya sebab tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini.

Yang di cintai suatu saat akan pergi. Tapi rasa cinta itu bisa kamu simpan selamanya di hati.

Semoga bermanfaat,

Be grateful so you can be happy 🙂

Leave a Reply